Korn terbentuk setelah band L.A.P.D bubar akibat penyanyinya yang ketergantungan obat terlarang. Reginald Arvizu, James Shaffer, dan David Silveria ingin melanjutkan band dengan merekrut Brian Welch sebagai gitaris, lantas memulai band baru bernama Creep. Awal tahun 1993 , Creep mengamati vokalis Sexart, Jonathan Davis untuk diajak bergabung dengan band. Davis sebenarnya tak ingin bergabung, tapi setelah berkonsultasi dengan seorang paranormal dia memutuskan untuk ikut audisi dan akhirnya bergabung. Seperti yang dia katakan sendiri pada sesi wawancara DVD Who Then Now. Setelah Jonathan direkrut, mereka ingin mengubah nama band Creep dengan nama baru. Akhirnya mereka mengubahnya menjadi “Korn”. Jonathan yang menyarankan nama itu ketika sesi latihan yang disukai juga oleh anggota lainnya. Jonathan mengambil krayon dan menulis logo mereka dengan tulisan tangan anak-anak mengganti huruf “C” dengan “K” serta penulisan huruf “R” yang dibalik.Pada bulan April di tahun itu, Korn mulai menjalin persahabatan dengan seorang produser, Ross Robinson, yang merekam album demo pertama mereka Neidermeyer’s Mind. Selama tahun pertama, mereka kurang mendapat tempat di kalangan penikmat musik yang saat itu aliran grunge masih sangat digandrungi. Setelah beberapa kali percobaan dengan beberapa perusahaan rekaman. Paul Pontius dari Immortal/Epic Records mendengar band ini di sebuah klub malam dan sangat terkesan, dia langsung menemui mereka serta menawarkan langsung kontrak rekaman. Dengan seorang produser dan label, Korn mulai mengerjakan album pertama mereka.Secara musikalitas, album mereka menggabungkan antara heavy metal, grunge, hip hop dan funk. “Blind” menjadi single pertama mereka, dan mendapatkan perhatian di pasaran. Ketika Korn merilis album tersebut tanggal 11 Oktober 1994 , tawaran konser tak henti-hentinya berdatangan tanpa bantuan stasiun radio atau video. Kepopuleran mereka murni semata- mata hanya mengandalkan konser yang terus berlanjut, yang akhrinya menciptakan kelompok penggemar fanatik. Aktivitas para penggemarlah yang membantu menolong Korn di Billboard 200 , dengan mencatatkan mereka di peringkat #72 tahun 1996. lagu mereka “Shoots and Ladders” masuk dalam nominasi Grammy kategori Best Metal Performance. saat konser akbar pertama mereka, Korn menjadi band pembuka Danzig bersama Merilyn Manson, Korn pernah menjadi band pembuka beberapa band besar lainnya di tahun 1995 seperti, Megadeth, 311 , Fear Factor, Flotsam & Jetsam dan KMFDM. Tapi tur konser yang benar-benar menyorot mereka adalah ketika membuka konser Ozzy Osbourne bersama Deftones. Setelah itu Korn kembali mengerjakan proyek album keduanya.
Grup band yang boleh dibilang sudah melegendaris ini merupakan suatu generasi awal dari revolusi musik metal. Mereka seolah menemukan jenis musik baru yang menggunakan banyak sekali suara distorsi aneh. Kombinasi ini sebenarnya muncul dari hasil olah efek sang gitaris James Shaffer (Munky), dikombinasikan dengan betotan bassis Reggie Arvizu (Fieldy) yang sangat piawai memainkan irama antara funk dan alternative, ditambah pukulan sang drummer, David Silveria, yang fasih berimprovisasi menggunakan senar dan hihat-nya. Belum lagi ditambah suara-suara aneh bak bahasa baru yang kerap diteriakkan dari mulut sang vokalis, Jonathan Davis.
Sejarah.
Menurut sejarahnya pada tahun 1989 silam di kota kelahiran mereka, Bakersfield, AS, Fieldy, Munky dan David membentuk sebuah band dengan nama konyol, yakni L.A.P.D. (Love And Peace Dude). Karena merasa buntu dan hanya jalan ditempat saja mereka bertiga memutuskan untuk pindah ke Orange County, sebuah kota yang pada saat itu terkenal dengan banyak melahirkan bibit rocker. Dibantu oleh seorang vokalis lokal top bernama Richard Morral, trio itu mulai beredar dengan tujuan tebar pesona di klub-klub malam sekitar kawasan Huntingdon Beach sembari berharap dilirik oleh label perusahaan rekaman manapun dan juga punya fans sendiri. Sejak kepindahan itu mereka pun sibuk mengisi waktu masing-masing di siang hari dengan bekerja untuk bertahan hidup di kota baru tersebut.
Setelah terus berusaha akhirnya mereka dilirk juga oleh sebuah indie label bernama Triple X Records. Salah seorang pemilik perusahaan itu bernama Dean Nateway mengaku sempat kehabisan akal menangani para personil ini. Pasalnya meski memiliki nama dengan unsur Peace, tetapi mereka kerap melakukan hal-hal konyol yang selalu membuat orang-orang di sekeliling mereka kesal dan tidak menaruh simpati kepada mereka. Namun begitupun dengan bakat musik yang terus mengalir nama L.A.P.D berhasil menembus hingga benua Eropa. Satu kendala baru muncul ketika adanya rencana untuk tur keliling. Sang owner, Dean mempermasalahkan sikap mereka yang ditakutkan akan membawa bencana saat tur.
Polemik ini ternyata juga menjadi sebuah ancaman bagi sang vokalis Richard. Sebaliknya trio itu menganggap sikap mereka itu bukanlah masalah, tetapi diyakini itu merupakan suatu sensasi yang bias menarik perhatian khalayak luas. Melihat respon negatif dari para personel akhirnya bala pun datang. Triple X Records memutuskan untuk membatalkan kontrak, ditambah lagi dengan sang vokalis Richard yang memutuskan hengkang dari L.A.P.D. Tidak kehabisan akal mereka terus melanjutkan kiprah di dunia musik dengan memanggil rekan sekota kelahiran mereka Brian Welch (Head) untuk bergabung sebagai tandem Munky bermain gitar dan menamakan band kuartet baru itu menjadi Creep. Dengan formasi double gitar ini mereka mulai menciptakan suara musik yang lebih keras lagi dengan gaya berbeda, dimana keduanya silih berganti berbalasan memainkan lead dan rhytem.
Formasi Baru
Kemudian mereka mencoba menyempurnakan formasi dengan memasang iklan di setiap tempat dalam upaya mencari vokalis. Namun mereka belum juga menemukan karakter suara yang pas dengan jenis musik mereka walau telah mengaudisi puluhan vokalis. Merekapun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, Bakersfield. Dalam perjalanan pulang mereka berempat mampir di sebuah bar untuk beristirahat dan tiba-tiba terkesima melihat aksi panggung dan karakter suara aneh yang keluar dari mulut vokalis bernama Jonathan Davis. Jonathan saat itu masih bergabung dengan sebuah band bernama SexArt yang selalu membawakan musik sejenis dengan Pearl Jam dan merupakan penghibur tetap di bar tersebut. Selain itu yang paling aneh, Jonathan bertahan hidup dengan bekerja sebagai asisten autopsy (bedah mayat-red). Jadi band SexArt merupakan kerjaan sampingan untuk menghilangkan kebosanannya mengurusi mayat setiap hari.
Meski mengaku sebelumnya tidak pernah mendengarkan lagu-lagu bising seperti yang dimainkan kuartet Creep itu, Jonathan mengambil resiko untuk ikut bergabung dengan Fieldy dkk. Setelah dua minggu Jonathan resmi dilantik sebagai vokalis baru, mereka pun memulai karir baru dengan merekam demo sebanyak 4 lagu, dua diantaranya adalah lagu yang ngetop sekarang, Daddy dan Blind. Satu hal terakhir yang mengganjal adalah nama Creep yang menurut mereka tidak cocok dengan jenis musik yang mereka ciptakan. Hingga pada suatu saat, ketika Jonathan menceritakan hal lucu kepada para personel lainnya tentang teman-teman sekotanya yang gay yang selalu mengucapkan corn, yaitu sebuah kata perumpamaan untuk sebuah alat Bantu seks untuk para kaum gay. Setiap John mengucapkan kata kamus Corn, maka para personel selalu terbahak-bahak tanpa henti. Ditambah dengan rombak sana sini, maka dari sinilah awalnya tercipta nama Korn yang kini melegenda di seluruh dunia.
Kekompakan itu pun membuahkan sebuah album sukses bernama "Korn" pada tahun 1994. Di tahun 1996 mereka kembali merilis album "Life Is Peachy". Kesuksesan semakin meningkat ketika mereka mengeluarkan album lagi "Follow The Leader" pada tahun 1998. Suatu kenangan terakhir Korn tercatat pada tahun 2002 dimana mereka berhasil merilis album "Untouchables" dengan formasi yang komplit untuk terakhir kalinya. Sebab di tahun 2005 tiba-tiba muncul berita mengejutkan bahwa sang gitaris Brian (Head) Welch, keluar dari korn dengan alasan berbau religius.
Menurut Brian ia mengundurkan diri karena ingin lebih memperdalam ilmu keagamaannya sebagai seorang Nasrani dan bukan karena suatu masalah apapun dengan para rekan lainnya. Ironisnya Korn tetap semangat melanjutkan visinya yaitu sebagai band teratas di dunia, dengan merilis lagi album baru yakni "See You On The Other Side", pada tahun 2007. Kali ini suara musik yang mereka tampilkan sedikit terdengar berbeda. Sang gitaris, Munky, seolah tidak mendapat tantangan penuh dengan absennya kocokan gitar dari Head. Lalu hingga sekarang mereka baru saja menyelesaikan album terbarunya "Evolution" pada awal Juli kemarin. Dan mereka mengatakan akan segera mengedarkannya mulai 31 Juli 2007 mendatang.
Cerita tentang KoRn dimulai Persisnya pada saat Fieldy, Munky, dan David, yang sama-sama kelahiran Bakersfield, California, Amerika Serikat, itu sepakat membentuk sebuah band dan berkarier di jalur musik. Tidak seperti sekarang, band yang diberi nama L.A.P.D (singkatan dari Love And Peace Dude) itu awalnya berkutat di jalur funk alternatif semodel Faith No More atau Red Hot Chili Peppers.
Sempat mereguk sukses di lokalan Amerika dan beberapa negara Eropa, karier L.A.P.D terhenti setelah merilis hanya satu album, Who’s Laughing Now? (1991). Penyebabnya tak lain lantaran perilaku para personelnya yang “ajaib”. Hobi betul mereka merusak backstage mereka sendiri. Lebih ajaib lagi, mereka menganggap bahwa semua itu adalah salah satu cara yang efektif untuk mendapatkan publikasi dan sorotan media!
Tentu saja hal itu merepotkan semua pihak yang terlibat. Manajemen serta, tentunya, label yang menaungi mereka. Hingga sampai pada satu titik, pihak label tak tahan lagi lalu langsung memutuskan kontrak.
Pemutusan kontrak itu berefek pula pada bubarnya formasi L.A.P.D, yang sebenarnya sangat menjanjikan. Vokalis mereka saat itu, Richard Morral, terlanda stres berat, dan serta-merta mengundurkan diri.
Untungnya, kehilangan kontrak label plus vokalis tidak menyurutkan semangat. Mereka tetap kukuh melanjutkan cita-cita. Bahkan, dengan penuh percaya diri Fieldy cs merekrut Brian Welch, seorang karib yang kerap menjadi roadies mereka kala L.A.P.D masih berjaya, untuk dijadikan tandem Munky di sektor gitar.
Bersamaan dengan masuknya Brian, mereka pun sepakat buat mengubah warna musik yang diusung. Dari funk alternatif menjadi metal yang lebih agresif.
Lewat satu pertemuan yang tak direncanakan sebelumnya, kuartet ini akhirnya menemukan orang yang tepat untuk mengisi posisi vokalis. Jonathan Davis namanya.
Juga kelahiran Bakersfield, cowok yang saat itu sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai asisten bedah mayat di rumah mayat Kern County itu ditemukan saat sedang tampil di panggung bersama bandnya, SexArt.
Terkesan oleh penampilan dan suara Jon malam itu, Fieldy cs langsung saja memutuskan untuk “membajak”-nya menjadi vokalis mereka. Tidak membutuhkan waktu lama, Jon langsung bilang,”Ya!”
Pilihan yang memang, pada akhirnya, terbukti sangat tidak salah. Pasalnya, selain punya karakter suara yang begitu menyatu dengan musik Fieldy cs, Jon juga punya segudang masa lalu plus pengalaman hidup yang cukup kelam. Pengalaman yang bisa digali lalu dijadikan sumber inspirasi bagi deretan lirik-lirik lagu mereka nantinya.
Ngetop karena kelam
Adalah pertemuan ini juga yang akhirnya membuat musik mereka jadi terasa unik. Bagaimana tidak? Groove-groove bernuansa funky, yang selama ini lebih terasa pas mengiringi musik bernuansa ceria, dipadu dengan besetan gitar distortif yang sengaja dibuat bersteman rendah membalut lirik-lirik yang sama sekali tidak ceria, namun justru sebaliknya, sangat gelap dan mencekam. Saat itu, kecuali Creep (nama mereka sebelum akhirnya diubah menjadi KoRn), tak ada satu band pun yang maju dengan kombinasi sedemikian kontras.
Begitulah. Tiga tahun setelah pertemuan itu, album debut KoRn pun dirilis. Bermodal singel sangar macam Blind dan Daddy, kemunculan mereka seakan membuka keran bagi gelombang metal jenis baru: NuMetal/hip-metal!
Ya. Enggak lama kemudian, langkah dan formulasi yang diracik oleh para personel KoRn langsung ditiru oleh bermacam band. Pemakaian gitar tujuh senar seakan satu keharusan bagi para gitaris metal. Lirik-lirik straight forward yang isinya melulu tentang kepedihan, kemarahan, raungan, serta kemurungan menjadi satu keharusan bagi para vokalis. Dan, tiap-tiap basis atau drumer yang ingin kiprahnya dilihat harus mampu membentuk groove-groove layaknya para musisi hip hop, R&B, atau funky!
Jago mengorganisir konser
Ternyata mereka juga jago mengorganisir konser. Belakangan, hasil kerja mereka menjadi salah satu contoh konser sukses karena kemasannya yang unik. Diberi nama Family Values Tour (FVT), tur tahunan itu mulai digelar pada tahun 1998. Sampai sekarang, FVT masih tetap berlangsung dan masuk dalam daftar tunggu metalheads di Amerika setiap tahunnya.
Keistimewaan tur ini enggak lain lantaran kekuatan para pengisi acaranya. Biarpun tidak terlalu beragam, namun line up yang disusun Jonathan cs mampu mewakili dua kubu yang tadinya dianggap saling berseberangan: metal dan hip hop. Untuk putaran pertama tahun 1998, selain mereka sendiri, Jonathan cs menggamit Ice Cube, Limp Bizkit, Orgy, dan Rammstein.
Selain faktor pengisi acara, sikap simpatik yang ditunjukkan oleh KoRn sebagai penyelenggara yang membuat ajang ini menyedot begitu banyak penonton dan menjadi satu rangkaian tur yang paling ditunggu. Bayangkan saja. Untuk sajian berdurasi sekitar 6-7 jam lengkap dengan pengisi acara nan paten plus atraksi laser dan panggung yang megah, penonton hanya dikenai tiket seharga 30 dollar AS. Sebagai perbandingan, harga tiket untuk konser sejenis saat itu yang termurah berkisar antara 75-85 dollar AS!
Sudah barang tentu hal itu makin melambungkan nama KoRn di mata para penggemar metal. Keberpihakan mereka terhadap fans dianggap sangat jelas. Begitu pun posisi mereka yang dianggap “terhormat” di antara band-band sealiran lainnya. Saat album ketiga, Follow The Leader (1998), dirilis, KoRn praktis sudah menjadi semacam Godfather of NuMetal!
Yap. Disadari atau tidak, dalam perjalanannya, KoRn tergiring masuk ke dalam golongan band-of-the-band. Band yang tak butuh lagi number one hit di berbagai negara untuk dapat diakui. Band yang tak terlalu peduli bahwa albumnya tak lagi mencetak angka penjualan jutaan kopi, melainkan band yang kerap menjadi inspirasi band lainnya untuk berbuat sama. Band yang ada untuk fans dan selalu berorientasi pada kepuasan fans!
Mengerjakan album sendiri
Berbekal prinsip-prinsip dasar band-of-the-band (serta sedikit banyak pengalaman buruk Untouchables) itulah, hampir sepanjang tahun 2003 dihabiskan oleh Jonathan cs di dalam studio, meracik formulasi buat Take A Look In The Mirror.
Tak lagi dibantu oleh produser di luar band–seperti yang biasa mereka lakukan di lima album sebelumnya–kali ini seluruh proses produksi mereka kerjakan sendiri. Mulai dari perumusan konsep, membentuk komposisi dasar, hingga aransemen utuh. Adalah Jonathan yang kemudian didaulat untuk memegang kendali seluruh proses produksi.
“Ah, saya enggak pernah merasa sebagai leader of the band. Dari dulu KoRn adalah milik kami bersama. Dan karenanya masing-masing berhak menjadi bos. Posisi saya selama pembuatan Take A Look…, bisa dibilang hanya sebagai cheerleader. Yang menyemangati dan mendorong teman-teman untuk melakukan yang terbaik!” bantah Jonathan.
Apa pun yang dikatakan oleh Jonathan, yang jelas, pola kerja seperti itu terbukti ampuh. Setidaknya, menurut Jonathan, lebih efisien waktu dan biaya, dengan hasil yang setara, bahkan bisa jadi lebih dari yang dicapai lewat Untouchables.
“Kami enggak lagi mengandalkan open chorus yang megah, melainkan kembali kepada riff-riff yang mengentak, yang jadi ciri khas kami selama ini,” jelas Fieldy.
“Ya. Selama pembuatan album ini, kami selalu berorientasi pada penampilan panggung. Soalnya, materi dari Untouchables terbukti lebih membosankan di atas panggung ketimbang menyenangkan bagi fans!” ujar Munky gemas.
“(Musik) KoRn adalah untuk fans KoRn!” tegas Jonathan. “Kami enggak peduli seberapa banyak album kami ini bakal terjual nantinya. Mau sepuluh juta, sepuluh ribu, atau hanya sepuluh keping pun enggak akan ada bedanya buat kami. Yang terpenting adalah kami dan tentunya fans kami senang dan puas dengan apa yang sudah kami buat!” tambahnya.








